Jumat, 22 November 2013

cerpen dagdigdug


Dag dig dug
Tahun ajaran baru adalah tahun yang biasanya ku tunggu-tunggu, tapi berbeda dengan sekarang. Tahun ini aku tamat SMA, itu memang menyenangkan. Lalu setelah itu aku harus masuk universitas. Semua hal itu memang sangat ku nantikan. Hanya satu hal yang sangat tak ku sukai. OSPEK,  ya lima huruf itu yang memnyebabkan aku malas pergi ke kampus baruku itu.
Oh aku belum memperkenalkan diri. Namaku Marsha, orang-orang sering panggil aku Chaca. Aku anak tunggal dari keluarga Suherman. Aku tinggal di Jakarta barat. Aku termasuk anak yang di manja oleh orang tuaku. Ya iyalah orang anak satu-satunya. Segitu aja perkenalanku.
“ cha bangun nak, hari pertama sekolah kok nggak semanget gini!!” teriak bundaku yang cerewet itu, walau cerewet tapi itu yang selalu menjadi warna di hari-hariku. Aku sangat menyayanginya melebihi apapun.
“ iya bun chaca bangun” aku segera bangun dan langsung mandi.
Mandi sudah, berias sudah, dan sekarang waktunya beresin perlengkapan ospek di bantu oleh bundaku tersayang. Karena buru-buru aku sampai sarapan di mobil. Karena takut ribet jadi hari ini aku bawa supir.
Sesampainya dikampus , aku di bantub sama sopirku berbenah karena aku belum memakai pernak-pernik ospek. Seperti biasa untuk mengawali ospeknya, kami para siswa baru memakai segala pernak-pernik yang diperintahkan oleh para senior. Ini yang paling aku benci, memalukan.
Brrukk
Aku tertabrak lalu lalang mahasiswa yang sedang menuju kampus. Sesosok tangan menolongku, membantuku membereskan barang-barang yang berserakan. Dilihat dari pakaiannya dia sepertinya bukan siswa baru, mungkin dia salah satu senior di sini karena dia memakai jas almamater kampus.
Degg
Seketika aku membeku melihat wajahnya. Tinggi, putih, walaupun memakai kacamata tapi tak menghilangkan karisma dari wajahnya.
“ halooo, kamu baik baik saja?” Katanya sambil melambai-lambaikan tangan di depanku. Berusaha membangunkanku dari lamunanku.
“ ekhemm.” Dia berdehem, barulah aku sadar apa yang ku lakukan itu konyol
“ma ma maaf,” segera ku ambil barang-barangku yang ada di lengannya.
Aku langsung berlari menuju aula kampus. Langkahku terhenti, untuk terakhir kalinya aku menengok kebelakang. Ku lihat dia garuk-garuk kepala, mungkin merasa aneh atas tingkahku. Aku buru-buru berbalik lagi saat dia membalikkan badan. Aduuhh aku sangat malu sekali.
Akhirnya acara ospek dimulai dan aku salamat tidak kesiangan.
 “baiklah kalau begitu acara ospek ini akan saya resmikann dengan ucapan bismillahi rahmani raahimi.” Ucap ketua yayasan kampus mengakhiri pidatonya.
“ yeyeyeyeyey” sorak sorai peserta ospek.
Kami mulai digiring sesuai kelompok kami. Kebetulan aku berada satu kelompok dengan teman SMA ku, Emi Zatulini. Nama kelompoknya KAMBODIA. Wahh kakak-kakak pendampingnya garang-garang semua. Kami habis-habisan di kerjain sama kakak-kakak itu, bukannya mengayomi malah sebalikinya. Kami di perintah macem-macem yang menurut orang normal itu kurang wajar. Coba aja piker, aku sama Emi disuruh jogged-joged di tengah lapang terus di pinggir lapang itu banyak kakak kelas lewat yang liatin, itu semua Cuma buat dapetin tanda tangan dari kakak-kakak pembimbing. Perasaan minta tanda tangan artis aja ga separah gini. Untung aja aku udah tebel muka kayanya.
Hari ini cukup melelahkan Cuma buat menuhin selembar kertas sama tanda tangan ga jelas itu.
  baiklah untuk hari ini di cukupkan sekian dulu. Kalin sudah berusaha sekuat tenaga, sekarang kalian boleh pulang untuk memulihkan tenaga kalian untuk hari besok.” Kata ketua senat di akhir acara. Masih ada satu hari lagi tersisa dari acara ospek ini.
Aku pulang dengan selamat sampai rumah. Di saambut oleh bunda.
“ aduh purti bunda kenapa loyo begini?” tanta bundaku
“ sudahlah bunda aku sangat lelah.” Keluhku
“ mau buda buatin air anget buat mandi?” tawar bundaku dengan penuh perhatian
“ makasih bun.” Ucapku sambil mencium pipi bundaku
“ aduh kamu bau asem banget.” Canda bundaku. “ bundaaa!”
Yah keluargaku memang bisa dibilang harmonis. Sangat jarang tyerjadi pertengkaran. Makanyan aku betah berada di rumah. Ayahku sepertinya belumpulang dari kantor. Biasanya kalau ayahku sudah pulang pasti akan lebih rame lagi.
 Haaahhh segarnya sudah mandi dengan air hangat, aku jadi bersemanghat lagi. Aduhh perutku udah demo minta diisi. Segera aku menuju meja makan. Ternyata ayah dan bundaku sudah menunggu di sana.
“ baru saja mau ayah panggil, eh kamu udah nongol.”
“ hehehe instingku memang tak pernah salah kalau tentang makanan.” Kataku
Aku langsung duduk di meja makan. Kehangatan keluarga inilah yang bisa membuatku tumbuh menjadi perempuan yang sangat beruntung. Tak akan ku jual walau berapapun.
Malam ini ku habiskan dengan berbincang-bincang bersama kedua orang tuaku. Kami masing-masing menceritakan kejadian yang telah terjadi sehari ini. Walaupun kebanyakkan aku yang berbicara, tapi kedua orang tuaku ini selalu meresponku dengan baik. Seselaki kami tertawa karena kejadian yang memalukan yang ku ceritakan saat ospek.
Seperti biasa bundaku mengantarku tidur dengan satu kecupan di keningku. Akupun terlelap.
“ bunda sepatu chaca yang warna merah mana?” kesibukan dimulai lagi dipagi hari
“ inget-inget dong cha, belum tua kok udah pelupa.”
Ku acak-acak lemari sepatuku, tapi tetap sepatu merahku itu tidak ada. Oh iya aku baru ingat kalau sepatuku itu masih ada di laundry.
“ chaca ayo cepet saying kita sarapan,”
“ sebentar ayah. Chaca lagi nyari sepetu chaca.”
“ tapi kamu kan punya banyak sepatu.”
“ ga ada yang serasi sama baju yang chaca pake ayah.”
“ ya udah kalau udah nemu sepatunya cepet sarapan ya.”
“ iya ayah!”
Sambil duduk ku coba sepetuku satu persatu. Sampai akhirnya aku menemukan sepatu yang cocok dengan bajuku. Aku langsung menuju ruang makan. Mungkin hanya 5 sendok nasi goring yang masuk kemulutku saking buru-burunya. Aku pamitan sama ayah bundaku.
“ mau ayah anterin kesekolah?”
“ ga usah yah, nanti ayah telat ke kantor. Chaca bisa sendiri kok.”
“ ya udah hati-hati ya.”
“ iya bunda.” Ucapku sambil cipika-cipiki(cium pipi kanan-kiri)
Kini masa ospek sudah selesai dank au sudah resmi menjadi mahasiswa. Aku ngambil jurusan bisnis managemen. Itu memang cita-citaku dari SMP.
“ selamat pagi anak-anak”
“ pagi bu.”
Ini adalah pelajaran pertama yang ku terima di kampus. Bu Dewi guru akuntansi baru saja masuk memberikan kuliah. Aku sangat kagum pada bu Dewi, Penyampaian materinya sangat mudah di pahami.
Jam istirahat pun datang. Aku beranjak menuju kantin. Di luar kelas Emi sudah menunggu. Kami memang tidak sekelas, tapi masih bisa menghabiskan jam istirahat bersama.
“ ckckckckckck hahahahah” tawa sekumpulan laki-laki di depan kami hanya terhalangi satu meja. Mereka sepertinya bukan angkatan ynag sama denganku. Aku kembali menyantap makananku.
Aku terbelalak saat melihat sesosok laki-laki yang ku kenali. Ya dia orang yang membantuku saat di parkiran. Membantuku membereskan barang-barang yang berserakan. Ternyata benar itu dia. Senang rasanya bisa melihat dia lagi. Tapi bukan rasa senang saja tapi juga rasa grogi. Malu rasanya kalau mengingat kejadian itu, aku sungguh konyol. Ku tundukkan kepalaku agar dia tak malihatku. Sesekali ku lihat dia. Aku sempat berpikir, untuk apa aku bersembunyi toh dia juga mungkin tak akan ingat padaku.
“ marsha kamu kenapa sih? Nunduk mulu.” Tanya Emi
“ engga kenapa-napa kok.”
“ terus ngapain kamu nunduk?”
“pengen aja. Oh iya, Emi kamu tau ga laki-laki yang ada di meja sana?” tanyaku sambil melirik laki-laki itu.
“ yang mana cha?”
“ yang pake kacamata itu!”
“ oh itu sih aku tau, dia kakak kelas kita jurusan IT(TEKNOLOGI INFORMASI). Namanya kak Rega.”
“ kok kamu bisa tau gitu sih?” aku makin penasaran
“ ya iya lah, emang waktu ospek kamu ga ketemu dia? Dia itu salah satu senior kita. Dia ganteng ya.”
“ hmmm”
“ kamu naksir ya?” Emi mulai menggoda kau dengan pertanyaan-pertanyaannya itu.
“ eng eng engga kok.”
“ ayo ngaku loh.”
“ engga aku cuma penasaran aja.”
Hari hari terus berlalu. Sekarang aku punya tempat favorit di kampus. Itu adalah perpustakaan. Bagi sebagian orang perpustakaan menjadi tempat favorit, itu sangat aneh. Tapi bagiku sangat berbeda. Selain aku memang hobi membaca tapi juga ada satu yang membuatku lebih betah di perpustakaan. Aku dapat memperhatikan Rega sesukaku.
Seperti hari ini. Seminggu sekali dia rutin mengunjungi perpustakaan. Aku pun mengikuti rutinitas itu. Aku sudah selesai membaca buku, tapi aku masih ingin membaca lagi. Tak ada batasan buku yang ku baca. Selama buku itu menarik menurutku maka akan ku baca.
Aku mulai menjelajahi lorong-lorong rak buku yang ada di perpustakaan. Aku sepertinya menemukan buku yang menarik. Tapi saat aku akan mengambil buku itu tiba-tiba ada seseorang yang mengambilnya.
“ maaf saya melihatnya terlebih dahulu.”
Saat aku melihat ternyata dia rega. Ya walaupun aku menyukainya tapi kesukaanku pada buku lebih besar. aku tak ingin mengalah dan memberikan buku menarik ini.
“ kata siapa? Aku yang pertama menyentuh buku itu..” tegasku sambil berusaha merebut buku itu.
“ hey kalian bisa siam tidak? Daripada kalian berebut sseperti itu lebih baik kalian membacanya bersama.” Celoteh seseorang yang sepertinya terganggu karena kebisingan yang kami buat.
“ hei itu ide yang bagus juga.” Kata rega
“ lebih baik kita membaca buku ini bersama. Kita bisa bertukar pendapat mengenai buku ini.” Katanya lagi
“ apa ini tidak apa-apa?” kataku
“ apa maksudmu?”
“kata orang kau popular di kampus.”
“ tidak seperti yang kau bayangkan!. Ayo kita pelajari bersama.” Kami lalu duduk di sebuah meja di sudut. Kebetulan tema buku ini adalah SF(science fiction) jadi sangat bagus untuk di diskusikan. Mungkin karena kesukaan kami sama jadi saat membahas buku ini rasanya sangat nyaman sekali. Kami kadang berbeda pendapat, tapi juga sering sepaham. Hari demi hari kami menjadi sering membahas beberapa buku bersama. Tertawa bersama, bingung bersama karena tidak bisa memecahkan masalah dalam buku, berdebat, sepertinya hubungan kami semakin dekat. Bahkan kami sering membuka beberapa rahasia masing-masing.
“hahhh, maaf aku terlambat. Tadi dosenku agak bermasalah.” Aku berbicara dengan nafas tersenggal-senggal karena habis lari
“ tak apa, lagi pula aku belum lama menunggu mu. Ayo cepat duduk sini.” Dia sangat hangat dan ramah.
“apa yang akan kita bahas hari ini. Sepertinya aku sedang ingin membahas tentang sastra. Bagaimana menurutmu?”
“ ku rasa itu ide yang bagus.”
Kami bisa menghabiskan beberapa jam disini. Kadang kami juga oergi ke perpustakaan umum atau toko buku.
“sepertinya ini sudah sore ayo kita pulang!” ajak rega
“ baiklah.”
Aku langsung pulang kerumah. Langsung menuju kamar. Ini sungguh melelahkan. Tanpa sadar akupun tertidur.
Seperti biasa setelah pulang dari kampus aku menyempatkan pergi keperpustakaan. Aku sudah memiliki janji dengan rega. Rega sudah ada di sana di meja yang biasa kami tempati.
“aku akan memberikan ini! Hari ini ulang tahunmu kan?” kata rega sambil menyodorkan sebuah buku yang di hiasi pita.
“ kau ingat ulangtahunku? Terimakasih. Tapi kenapa kau menghadiahkanku sebuah buku? Aku bisa saja bosan.” Keluhku
“ hey jangan begitu. Kau harus melihat dulu isinya.”
“ baiklah akan ku baca sekarang.”
“ silahkan.”
Aku mengangkat buku itu untuk melepaskan ikatannya,
“ kenapa buku ini ringan sekali?” dan ekspresi dia hanya nyengir. Ini aneh.
Saat aku memebuka buku itu, halaman awalnya seperti buku biasa tapi saat aku buka lembaran keduanya ada rongga yang kosong seperti habis di potong tengahnya dan dibuat sebuah kotak. Isinya sebuah kalung.
“apa maksudnya ini?” tanyaku penasaran
“ emm aku rasa aku sudah menyukaimu. Aku selalu merasa nyaman jika ada di dekatmu. Saat aku berbicara denganmu juga seperti ada ikatan tersendiri. Sikapmu selalu menghangatkan hari-hariku.” Di berhebti, tak melanjutkan kata-katanya.
“ lalu?” aku mencoba merespon setenang mungkin.
“ jika kau tak keberatan aku ingin menjadi pacarmu.” Jawabnya sedikit kikuk
“ jawaban apa yang kau inginkan dariku?”
“ ya.” Dia menjawab dengan lantang. Akupun mengangguk sedikit malu.
Baru saja kami akan berpelukan tiba-tiba gempa terjadi dikampus dan plluukk, aku terjatuh dari kasurku. Ternyata semua ini hanya mimpi. Getaran yang seperti gempa itu di timbulkan oleh getar hpku yang ku simpan di samping bantal. Kenapa mimpi itu harus berakhir?
Tak banyak yang bisa ku lakukan. Aku hanya bisa terus menjalani rutinitasku seperti biasa. Saat ini aku memang dekat dengan Rega tapi tidak sampai dia menembakku. Mungkin itu hanya hayalanku. Aku hanya bisa berharap itu jadi kenyataan seiring berjalannya waktu…..
Kata orang, orang baik akan memdapatkan apa yang dia inginkan jika dia berusaha……



The end
          Ini postingan pertamaku jadi maaf ya kalau banyak salahnya dan belum sempurna. Semoga ada orang yang ingin dan suka membacanya. Dan maaf juga karena banyak tersebar kesalahan pada ketikan nya. Mohon di maklum.