Dag
dig dug
Tahun
ajaran baru adalah tahun yang biasanya ku tunggu-tunggu, tapi berbeda dengan
sekarang. Tahun ini aku tamat SMA, itu memang menyenangkan. Lalu setelah itu
aku harus masuk universitas. Semua hal itu memang sangat ku nantikan. Hanya
satu hal yang sangat tak ku sukai. OSPEK,
ya lima huruf itu yang memnyebabkan aku malas pergi ke kampus baruku
itu.
Oh aku belum
memperkenalkan diri. Namaku Marsha, orang-orang sering panggil aku Chaca. Aku
anak tunggal dari keluarga Suherman. Aku tinggal di Jakarta barat. Aku termasuk
anak yang di manja oleh orang tuaku. Ya iyalah orang anak satu-satunya. Segitu
aja perkenalanku.
“ cha bangun nak,
hari pertama sekolah kok nggak semanget gini!!” teriak bundaku yang cerewet
itu, walau cerewet tapi itu yang selalu menjadi warna di hari-hariku. Aku
sangat menyayanginya melebihi apapun.
“ iya bun chaca
bangun” aku segera bangun dan langsung mandi.
Mandi sudah,
berias sudah, dan sekarang waktunya beresin perlengkapan ospek di bantu oleh
bundaku tersayang. Karena buru-buru aku sampai sarapan di mobil. Karena takut
ribet jadi hari ini aku bawa supir.
Sesampainya
dikampus , aku di bantub sama sopirku berbenah karena aku belum memakai
pernak-pernik ospek. Seperti biasa untuk mengawali ospeknya, kami para siswa
baru memakai segala pernak-pernik yang diperintahkan oleh para senior. Ini yang
paling aku benci, memalukan.
Brrukk
Aku tertabrak lalu
lalang mahasiswa yang sedang menuju kampus. Sesosok tangan menolongku,
membantuku membereskan barang-barang yang berserakan. Dilihat dari pakaiannya
dia sepertinya bukan siswa baru, mungkin dia salah satu senior di sini karena
dia memakai jas almamater kampus.
Degg
Seketika aku
membeku melihat wajahnya. Tinggi, putih, walaupun memakai kacamata tapi tak
menghilangkan karisma dari wajahnya.
“ halooo, kamu
baik baik saja?” Katanya sambil melambai-lambaikan tangan di depanku. Berusaha
membangunkanku dari lamunanku.
“ ekhemm.” Dia
berdehem, barulah aku sadar apa yang ku lakukan itu konyol
“ma ma maaf,”
segera ku ambil barang-barangku yang ada di lengannya.
Aku langsung
berlari menuju aula kampus. Langkahku terhenti, untuk terakhir kalinya aku
menengok kebelakang. Ku lihat dia garuk-garuk kepala, mungkin merasa aneh atas
tingkahku. Aku buru-buru berbalik lagi saat dia membalikkan badan. Aduuhh aku
sangat malu sekali.
Akhirnya acara
ospek dimulai dan aku salamat tidak kesiangan.
“baiklah kalau begitu acara ospek ini akan
saya resmikann dengan ucapan bismillahi rahmani raahimi.” Ucap ketua yayasan
kampus mengakhiri pidatonya.
“ yeyeyeyeyey”
sorak sorai peserta ospek.
Kami mulai
digiring sesuai kelompok kami. Kebetulan aku berada satu kelompok dengan teman
SMA ku, Emi Zatulini. Nama kelompoknya KAMBODIA. Wahh kakak-kakak pendampingnya
garang-garang semua. Kami habis-habisan di kerjain sama kakak-kakak itu,
bukannya mengayomi malah sebalikinya. Kami di perintah macem-macem yang menurut
orang normal itu kurang wajar. Coba aja piker, aku sama Emi disuruh
jogged-joged di tengah lapang terus di pinggir lapang itu banyak kakak kelas
lewat yang liatin, itu semua Cuma buat dapetin tanda tangan dari kakak-kakak
pembimbing. Perasaan minta tanda tangan artis aja ga separah gini. Untung aja
aku udah tebel muka kayanya.
Hari ini cukup
melelahkan Cuma buat menuhin selembar kertas sama tanda tangan ga jelas itu.
“ baiklah untuk hari ini di cukupkan sekian
dulu. Kalin sudah berusaha sekuat tenaga, sekarang kalian boleh pulang untuk
memulihkan tenaga kalian untuk hari besok.” Kata ketua senat di akhir acara.
Masih ada satu hari lagi tersisa dari acara ospek ini.
Aku pulang dengan
selamat sampai rumah. Di saambut oleh bunda.
“ aduh purti bunda
kenapa loyo begini?” tanta bundaku
“ sudahlah bunda
aku sangat lelah.” Keluhku
“ mau buda buatin
air anget buat mandi?” tawar bundaku dengan penuh perhatian
“ makasih bun.”
Ucapku sambil mencium pipi bundaku
“ aduh kamu bau
asem banget.” Canda bundaku. “ bundaaa!”
Yah keluargaku
memang bisa dibilang harmonis. Sangat jarang tyerjadi pertengkaran. Makanyan
aku betah berada di rumah. Ayahku sepertinya belumpulang dari kantor. Biasanya
kalau ayahku sudah pulang pasti akan lebih rame lagi.
Haaahhh segarnya sudah mandi dengan air
hangat, aku jadi bersemanghat lagi. Aduhh perutku udah demo minta diisi. Segera
aku menuju meja makan. Ternyata ayah dan bundaku sudah menunggu di sana.
“ baru saja mau
ayah panggil, eh kamu udah nongol.”
“ hehehe instingku
memang tak pernah salah kalau tentang makanan.” Kataku
Aku langsung duduk
di meja makan. Kehangatan keluarga inilah yang bisa membuatku tumbuh menjadi
perempuan yang sangat beruntung. Tak akan ku jual walau berapapun.
Malam ini ku
habiskan dengan berbincang-bincang bersama kedua orang tuaku. Kami
masing-masing menceritakan kejadian yang telah terjadi sehari ini. Walaupun
kebanyakkan aku yang berbicara, tapi kedua orang tuaku ini selalu meresponku
dengan baik. Seselaki kami tertawa karena kejadian yang memalukan yang ku
ceritakan saat ospek.
Seperti biasa
bundaku mengantarku tidur dengan satu kecupan di keningku. Akupun terlelap.
“ bunda sepatu
chaca yang warna merah mana?” kesibukan dimulai lagi dipagi hari
“ inget-inget dong
cha, belum tua kok udah pelupa.”
Ku acak-acak
lemari sepatuku, tapi tetap sepatu merahku itu tidak ada. Oh iya aku baru ingat
kalau sepatuku itu masih ada di laundry.
“ chaca ayo cepet
saying kita sarapan,”
“ sebentar ayah.
Chaca lagi nyari sepetu chaca.”
“ tapi kamu kan
punya banyak sepatu.”
“ ga ada yang
serasi sama baju yang chaca pake ayah.”
“ ya udah kalau
udah nemu sepatunya cepet sarapan ya.”
“ iya ayah!”
Sambil duduk ku
coba sepetuku satu persatu. Sampai akhirnya aku menemukan sepatu yang cocok
dengan bajuku. Aku langsung menuju ruang makan. Mungkin hanya 5 sendok nasi
goring yang masuk kemulutku saking buru-burunya. Aku pamitan sama ayah bundaku.
“ mau ayah anterin
kesekolah?”
“ ga usah yah,
nanti ayah telat ke kantor. Chaca bisa sendiri kok.”
“ ya udah
hati-hati ya.”
“ iya bunda.”
Ucapku sambil cipika-cipiki(cium pipi kanan-kiri)
Kini masa ospek
sudah selesai dank au sudah resmi menjadi mahasiswa. Aku ngambil jurusan bisnis
managemen. Itu memang cita-citaku dari SMP.
“ selamat pagi
anak-anak”
“ pagi bu.”
Ini adalah
pelajaran pertama yang ku terima di kampus. Bu Dewi guru akuntansi baru saja
masuk memberikan kuliah. Aku sangat kagum pada bu Dewi, Penyampaian materinya
sangat mudah di pahami.
Jam istirahat pun
datang. Aku beranjak menuju kantin. Di luar kelas Emi sudah menunggu. Kami
memang tidak sekelas, tapi masih bisa menghabiskan jam istirahat bersama.
“ ckckckckckck
hahahahah” tawa sekumpulan laki-laki di depan kami hanya terhalangi satu meja.
Mereka sepertinya bukan angkatan ynag sama denganku. Aku kembali menyantap
makananku.
Aku terbelalak
saat melihat sesosok laki-laki yang ku kenali. Ya dia orang yang membantuku
saat di parkiran. Membantuku membereskan barang-barang yang berserakan.
Ternyata benar itu dia. Senang rasanya bisa melihat dia lagi. Tapi bukan rasa
senang saja tapi juga rasa grogi. Malu rasanya kalau mengingat kejadian itu,
aku sungguh konyol. Ku tundukkan kepalaku agar dia tak malihatku. Sesekali ku
lihat dia. Aku sempat berpikir, untuk apa aku bersembunyi toh dia juga mungkin
tak akan ingat padaku.
“ marsha kamu
kenapa sih? Nunduk mulu.” Tanya Emi
“ engga
kenapa-napa kok.”
“ terus ngapain
kamu nunduk?”
“pengen aja. Oh
iya, Emi kamu tau ga laki-laki yang ada di meja sana?” tanyaku sambil melirik
laki-laki itu.
“ yang mana cha?”
“ yang pake
kacamata itu!”
“ oh itu sih aku
tau, dia kakak kelas kita jurusan IT(TEKNOLOGI INFORMASI). Namanya kak Rega.”
“ kok kamu bisa
tau gitu sih?” aku makin penasaran
“ ya iya lah,
emang waktu ospek kamu ga ketemu dia? Dia itu salah satu senior kita. Dia
ganteng ya.”
“ hmmm”
“ kamu naksir ya?”
Emi mulai menggoda kau dengan pertanyaan-pertanyaannya itu.
“ eng eng engga
kok.”
“ ayo ngaku loh.”
“ engga aku cuma
penasaran aja.”
Hari hari terus
berlalu. Sekarang aku punya tempat favorit di kampus. Itu adalah perpustakaan.
Bagi sebagian orang perpustakaan menjadi tempat favorit, itu sangat aneh. Tapi
bagiku sangat berbeda. Selain aku memang hobi membaca tapi juga ada satu yang
membuatku lebih betah di perpustakaan. Aku dapat memperhatikan Rega sesukaku.
Seperti hari ini.
Seminggu sekali dia rutin mengunjungi perpustakaan. Aku pun mengikuti rutinitas
itu. Aku sudah selesai membaca buku, tapi aku masih ingin membaca lagi. Tak ada
batasan buku yang ku baca. Selama buku itu menarik menurutku maka akan ku baca.
Aku mulai
menjelajahi lorong-lorong rak buku yang ada di perpustakaan. Aku sepertinya
menemukan buku yang menarik. Tapi saat aku akan mengambil buku itu tiba-tiba
ada seseorang yang mengambilnya.
“ maaf saya
melihatnya terlebih dahulu.”
Saat aku melihat
ternyata dia rega. Ya walaupun aku menyukainya tapi kesukaanku pada buku lebih
besar. aku tak ingin mengalah dan memberikan buku menarik ini.
“ kata siapa? Aku
yang pertama menyentuh buku itu..” tegasku sambil berusaha merebut buku itu.
“ hey kalian bisa
siam tidak? Daripada kalian berebut sseperti itu lebih baik kalian membacanya
bersama.” Celoteh seseorang yang sepertinya terganggu karena kebisingan yang
kami buat.
“ hei itu ide yang
bagus juga.” Kata rega
“ lebih baik kita
membaca buku ini bersama. Kita bisa bertukar pendapat mengenai buku ini.”
Katanya lagi
“ apa ini tidak
apa-apa?” kataku
“ apa maksudmu?”
“kata orang kau
popular di kampus.”
“ tidak seperti
yang kau bayangkan!. Ayo kita pelajari bersama.” Kami lalu duduk di sebuah meja
di sudut. Kebetulan tema buku ini adalah SF(science fiction) jadi sangat bagus
untuk di diskusikan. Mungkin karena kesukaan kami sama jadi saat membahas buku
ini rasanya sangat nyaman sekali. Kami kadang berbeda pendapat, tapi juga
sering sepaham. Hari demi hari kami menjadi sering membahas beberapa buku
bersama. Tertawa bersama, bingung bersama karena tidak bisa memecahkan masalah
dalam buku, berdebat, sepertinya hubungan kami semakin dekat. Bahkan kami
sering membuka beberapa rahasia masing-masing.
“hahhh, maaf aku
terlambat. Tadi dosenku agak bermasalah.” Aku berbicara dengan nafas
tersenggal-senggal karena habis lari
“ tak apa, lagi
pula aku belum lama menunggu mu. Ayo cepat duduk sini.” Dia sangat hangat dan
ramah.
“apa yang akan
kita bahas hari ini. Sepertinya aku sedang ingin membahas tentang sastra.
Bagaimana menurutmu?”
“ ku rasa itu ide
yang bagus.”
Kami bisa
menghabiskan beberapa jam disini. Kadang kami juga oergi ke perpustakaan umum
atau toko buku.
“sepertinya ini
sudah sore ayo kita pulang!” ajak rega
“ baiklah.”
Aku langsung
pulang kerumah. Langsung menuju kamar. Ini sungguh melelahkan. Tanpa sadar
akupun tertidur.
Seperti biasa
setelah pulang dari kampus aku menyempatkan pergi keperpustakaan. Aku sudah
memiliki janji dengan rega. Rega sudah ada di sana di meja yang biasa kami
tempati.
“aku akan
memberikan ini! Hari ini ulang tahunmu kan?” kata rega sambil menyodorkan
sebuah buku yang di hiasi pita.
“ kau ingat
ulangtahunku? Terimakasih. Tapi kenapa kau menghadiahkanku sebuah buku? Aku
bisa saja bosan.” Keluhku
“ hey jangan
begitu. Kau harus melihat dulu isinya.”
“ baiklah akan ku
baca sekarang.”
“ silahkan.”
Aku mengangkat
buku itu untuk melepaskan ikatannya,
“ kenapa buku ini
ringan sekali?” dan ekspresi dia hanya nyengir. Ini aneh.
Saat aku memebuka
buku itu, halaman awalnya seperti buku biasa tapi saat aku buka lembaran
keduanya ada rongga yang kosong seperti habis di potong tengahnya dan dibuat
sebuah kotak. Isinya sebuah kalung.
“apa maksudnya
ini?” tanyaku penasaran
“ emm aku rasa aku
sudah menyukaimu. Aku selalu merasa nyaman jika ada di dekatmu. Saat aku
berbicara denganmu juga seperti ada ikatan tersendiri. Sikapmu selalu
menghangatkan hari-hariku.” Di berhebti, tak melanjutkan kata-katanya.
“ lalu?” aku
mencoba merespon setenang mungkin.
“ jika kau tak
keberatan aku ingin menjadi pacarmu.” Jawabnya sedikit kikuk
“ jawaban apa yang
kau inginkan dariku?”
“ ya.” Dia
menjawab dengan lantang. Akupun mengangguk sedikit malu.
Baru saja kami
akan berpelukan tiba-tiba gempa terjadi dikampus dan plluukk, aku terjatuh dari
kasurku. Ternyata semua ini hanya mimpi. Getaran yang seperti gempa itu di
timbulkan oleh getar hpku yang ku simpan di samping bantal. Kenapa mimpi itu
harus berakhir?
Tak banyak yang
bisa ku lakukan. Aku hanya bisa terus menjalani rutinitasku seperti biasa. Saat
ini aku memang dekat dengan Rega tapi tidak sampai dia menembakku. Mungkin itu
hanya hayalanku. Aku hanya bisa berharap itu jadi kenyataan seiring berjalannya
waktu…..
Kata orang, orang
baik akan memdapatkan apa yang dia inginkan jika dia berusaha……
The
end
Ini postingan
pertamaku jadi maaf ya kalau banyak salahnya dan belum sempurna. Semoga ada
orang yang ingin dan suka membacanya. Dan maaf juga karena banyak tersebar
kesalahan pada ketikan nya. Mohon di maklum.